Ditaksir Kerugian Petani Bawang Merah Sebesar 2Triliun

Kaba Berita, JAKARTA – Petani bawang merah ditaksir kerugian sebesar Rp2 triliun pada periode panen November 2017 – Januari 2018 akibat penurunan harga dibawah biaya produksi.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas mengatakan pada periode pascapanen November-Januari, harga bawang merah merosot sampai dengan angka Rp4.000-Rp6.000 per kg.  Dengan kemungkinan produksi lebih dari 300.000 ton pada periode Nov 2017-Jan2018, maka kerugian yang diderita oleh petani mencapai Rp2 triliun.
Ditaksir Kerugian Petani Bawang Merah Sebesar 2Triliun
Salah satu penyebabnya adalah penyaluran dana pada program pengembangan 10 wilayah bawang merah tidak tepat guna. “Penyebabnya, karena program pengembangan 10 wilayah bawang merah dan untuk itu digelontorkan dana yang sangat besar. Beberapa petani mendapatkan bantuan sangat besar (untuk penanaman),” katannya kepada Bisnis, Senin (2/4).
Baca Juga : Industri Mebel Kini Sudah Mulai Bangkit 
Bantuan-bantuan dari pemerintah, lanjutnya, bersifat macam-macam dengan kisaran nilai Rp40 juta per ha. Namun hanya 10% petani yang mendapatkan bantuan tersebut di sentra-sentra bawang merah. Akibat bantuan yang tidak tepat guna tersebut, jumlah petani yang merugi sekitar 90% karena mereka tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Ketika musim panen tiba, hal tersebut menjadi masalah karena harga jual turun di bawah biaya produksi. Dwi menyebut biaya produksi berkisar antara Rp11.000-Rp13.000/kg, sedangkan harga di tingkat usaha tani berkisar antara Rp4.000 per kg - Rp6.000 per kg pada periode tersebut.
Baca Juga : Cara Aman Mengonsumsi Ikan Kalengan
“Ketika produksi memuncak, di akhir tahun harga justru jatuh. Berarti petani rugi Rp6.000 untuk setiap kilogram bawang merah yang dihasilkan selama tiga bulan,” katanya.
Dwi menambahkan harga didapatkan dari jaringan petani bawang merah yang menjadi anggota Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI).

Kaba Berita, JAKARTA – Petani bawang merah ditaksir kerugian sebesar Rp2 triliun pada periode panen November 2017 – Januari 2018 akibat penurunan harga dibawah biaya produksi.