Jambi-Waspada-Hidrometeorologi-Sebagai-Antisipasi

Jambi Waspada Hidrometeorologi Sebagai Antisipasi

Beberapa wilayah Jambi waspada hidrometeorologi, hal tersebut tidak terlepas dari ramalan BMKG dan pemantauan BPBD. Hidrometeorologi merupakan ancaman bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan lainnya akibat hujan deras.

Ancaman tersebut bukan hanya terjadi di Jambi, namun juga berlaku untuk beberapa wilayah Indonesia lainnya. Salah satu wilayah di Pulau Sumatera ini harus bersiap karena beberapa kotanya memiliki status siaga sementara beberapa lainnya menyandang waspada.

Status Jambi Waspada Hidrometeorologi, Pemprov Siapkan BTT 13 Miliar

Sangat serius menanggapi ramalan cuaca dan berbagai potensi bencana, pemerintah setempat telah mempersiapkan biaya tidak terduga atau BTT senilai 13 miliar rupiah. Sebab diperkirakan tanah longsor dan banjir akan terjadi pada akhir tahun 2022.

Status Jambi waspada hidrometeorologi membuat pemerintah setempat juga maksimal mensosialisasikan ancaman bencana kepada warga dan perangkat daerah. Beberapa wilayah telah melakukan apel siaga sehingga diharapkan saat terjadi bencana, semua siap.

Sejauh ini SK belum bisa dikeluarkan sebab baru tercatat sebanyak 2 wilayah saja yang menaikkan status siaga. Namun, pemerintah setingkat provinsi akan melakukan apel siaga menanggulangi banjir bandang dan tanah longsor pada 28 November mendatang.

Sekalipun SK belum bisa dikeluarkan karena terkendala hal teknis, namun pemerintah memastikan kesiapan sumber daya manusia dalam mengatasi permasalahan yang mungkin terjadi. Alokasi dana BTT yang disiapkan pemprov dijamin aman, seperti untuk covid lalu.

Sampai sekarang tercatat dua wilayah menaikkan status, yakni Tanjung Jebung Timur dan Muaro Jambi. Sampai saat ini, maka Jambi waspada hidrometeorologi akan dimaksimalkan kepada dua wilayah tersebut agar tidak terjadi dampak kerusakan secara serius.

BACA JUGA:  Wilayah Jawa Barat Berpotensi Hidrometeorologi Perlu Diwaspadai

Wilayah yang Menaikkan Statusnya ke Siaga

Terkait dua wilayah yang sudah menaikkan status dari waspada ke siaga, yakni Tanjung Jebung Timur dan Muaro Jambi, fokus pemprov sekarang ke dua wilayah tersebut. Muaro Jambi khususnya, sejak 13 November lalu, hujan lebat mengakibatkan longsor.

Salah satu titik longsor berlokasi tepat di belakang Kantor Gubernur di Telanaipura, tepatnya kawasan Danau Sipin. Salah satu alasan Jambi waspada hidrometeorologi dalam waktu panjang karena longsor satu ini menimbun area jogging sampai tidak bisa dilalui lagi.

Bahkan berdasarkan pengamatan dari LSM Pinse, Husni Thamrin mengatakan apabila hujan lebat terus terjadi dalam satu hari, maka potensi pohon rubuh sangat besar. Upaya BWSS menanggulangi banjir dan bencana lainnya sudah terlihat sejak awal.

Pembangunan tanggul bronjong pada kawasan tepian Danau Sipin menjadi salah satu bukti bahwa antisipasi telah dilakukan demi mengurangi dampak kerugian. Beberapa wilayah Sumatera lainnya juga turut waspada, seperti Bengkulu, Sumbar, dan Sumsel.

Bukan hanya dua wilayah yang telah kami sebutkan tadi sudah menaikkan status. Lainnya ada juga Tebo serta Merangin telah naik status menjadi siaga. Persiapan Jambi waspada hidrometeorologi sepertinya semakin jauh seiring sekian lokasi naik statusnya.

BPBD setempat menyebutkan sebanyak 84 kelurahan dan desa rawan banjir dan 14 kecamatan rawan longsor. Ke-84 wilayah rentan banjir tersebut terbagi menjadi 12 desa Bugo, 12 desa Merangin, dan 8 desa tersebar ke beberapa wilayah.

Sementara untuk pembagian 14 wilayah rawan longsor adalah 6 kelurahan Sungai Penuh, 5 desa Kerinci, dan 3 desa Tanjung Jabung Timur maupun Barat. Semua wilayah harus waspada dengan kemungkinan bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Selain pemprovnya yang sudah maksimal melakukan antisipasi, warga juga diminta untuk bisa bekerja sama sehingga tidak mempersulit evakuasi. Status Jambi waspada hidrometeorologi akan terus berlaku sekurang-kurangnya sampai akhir tahun 2022.

BACA JUGA:  Banjir Mengancam Beberapa Wilayah Indonesia Karena Hujan Lebat