Jawa-Tengah-Terancam-Hidrometeorologi-Akibat-Curah-Hujan-Tinggi

Jawa Tengah Terancam Hidrometeorologi Akibat Curah Hujan Tinggi

Beberapa daerah Jawa Tengah terancam hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi dan iklim tidak menentu di Indonesia. Peringatan banjir, angin puting beliung, topan, tanah longsor di Indonesia sudah diberitahukan oleh BMKG sejak beberapa hari lalu.

Total sebanyak 9 provinsi yang sampai saat ini masuk lamaran akan mengamati berbagai jenis bencana akibat hujan lebat. Di Pulau Jawa sendiri, baik Jateng, Jabar, maupun Jatim mengalami ancaman tersebut dengan pembagian wilayah siaga dan wilayah waspada.

Kendal Jawa Tengah Terancam Hidrometeorologi

Oktober tanggal 22 lalu, Kendal Jateng telah dilanda bencana hidrometeorologi cukup parah akibat curah hujan tinggi. Sebelumnya pada tanggal 21 Oktober telah terjadi angin kencang disertai hujan lebat yang membuat banyak pohon tumbang serta menutupi jalan.

Kendal termasuk salah satu wilayah Jawa Tengah terancam hidrometeorologi dimana berdasarkan keterangan Pusdalops BNPB setempat, ada beberapa wilayah terkena dampaknya. Sekitar 10 kecamatan dengan total 11 kelurahan dan 22 desa kena bencana.

Banjir yang merendam pemukiman warga memiliki tinggi beragam, mulai dari 20 sampai 60 centimeter. Angin kencang menyebabkan beberapa pohon tumbang ke jalan dan menutupi akses. Beberapa pohon dekat bangunan bahkan membuat atap warga runtuh.

Tidak hanya itu, berbagai fasilitas umum turut terkena dampak robohnya pohon-pohon besar. Beruntungnya saat pohon-pohon roboh terjadi, tim bentukan BPBD Kendal segera melakukan penanganan ke lokasi sehingga akses jalan kembali bisa digunakan kembali.

Meskipun demikian sampai sekarang status Jawa Tengah terancam hidrometeorologi masih tetap diwaspadai oleh BPBD setempat. Selain banjir dan pohon roboh, Kendal juga mengalami tanah longsor serta tidak kalah menyebabkan berbagai kerugian bagi warga.

BACA JUGA:  Banjir Mengancam Beberapa Wilayah Indonesia Karena Hujan Lebat

Akibat lain dari tingginya curah hujan dan meluapnya air sungai adalah dua jembatan runtuh sehingga tidak bisa digunakan. Asesmen menunjukkan sejumlah 2772 keluarga terkena dampaknya. Hanya ada dua rumah rusak sedang dan satu rumah mengalami rusak ringan.

Sementara sisanya terendam banjir. BPBD Kendal telah melakukan penanganan darurat segera setelah bencana melanda. Kala itu terdapat dua buah dapur umum yang berlokasi di Welen dan Patebon sebagai reaksi atas Jawa Tengah terancam hidrometeorologi.

Prediksi Hujan dalam Satu Hari

Sudah berlalu beberapa minggu ke belakang, tetapi ancaman hujan lebat di sekitar Jateng masih terus mengancam. Hal tersebut dibenarkan oleh BPBD bahwa hujan lebat masih akan terus terjadi sepanjang dari Cilacap sampai ke Solo.

Petir, angin, serta hujan lebat diprediksikan masih akan terus terjadi selama November ini. Intensitas hujan sendiri bervariasi, namun warga di sekitar Pantai Selatan diminta waspada sebab ancaman bencana banjir dari luapan air laut bisa terjadi kapan saja.

Pembagian intensitas hujan dalam satu hari telah dikemukakan oleh BMKG Semarang, Ahmad Yani pada 15 November lalu. Berikut merupakan pembagian intensitas hujan ringan sampai lebat sebagai bentuk antisipasi Jawa Tengah terancam hidrometeorologi:

  1. Hujan dengan intensitas ringan kemungkinan besar terjadi di Kendal, Kajen, Batang, Pekalongan, dan Semarang.
  2. Hujan dengan intensitas ringan sedang kemungkinan besar terjadi di Purworejo, Kebumen, Rembang, Jepara, Pati, Kudus, Ungaran, Demak, Pemalang, Tegal, Salatiga, dan juga Ambarawa.
  3. Hujan dengan intensitas sedang lebat kemungkinan besar dapat melanda Cilacap, Purbalingga, Purwokerto, Mungkid, Wonosobo, Banjarnegara, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, Sragen, Karanganyar, Blora, Grobogan, Temanggung, Brebes, Magelang, Slawi, Bumiayu, Majenang, juga sampai ke Surakarta.

Prakiraan cuaca dari BMKG tentu akan selalu update setiap saat menyesuaikan dengan kondisi alam. Waspada Jawa Tengah terancam hidrometeorologi harus menjadi perhatian semua pihak, mulai dari pemerintah, rakyat, juga petugas yang ahli menanggulanginya.

BACA JUGA:  Potensi Hidrometeorologi di Cianjur Masih Diwaspadai Sampai 2023