Yogyakarta-Waspada-Hidrometeorologi-Imbauan-BPBD-Harus-Dipatuhi

Yogyakarta Waspada Hidrometeorologi Imbauan BPBD Harus Dipatuhi

DI Yogyakarta waspada hidrometeorologi merupakan imbauan BMKG dan BPBD yang harus dipatuhi semua pihak. Mulai dari pemerintah setempat sampai warga mesti mempersiapkan diri karena lamaran cuaca telah diumumkan sejak jauh hari untuk antisipasi korban bencana.

Memasuki musim hujan, Yogya yang cenderung bersuhu panas menjadi lebih dingin dan nyaman. Namun, jika intensitas hujan tinggi tidak dibarengi dengan alam yang mampu menampung seluruh airnya dalam tanah maka bencana banjir dan longsor jadi ancaman.

Yogyakarta Waspada Hidrometeorologi, Berikut Antisipasi dari Pemkab Sleman

Sabtu, 12 November 2022 lalu, Pemkab Sleman Yogyakarta telah menggelar apel siaga untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam. Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo secara langsung memimpin apel siaga Yogyakarta waspada hidrometeorologi Sabtu lalu.

Salah satu tujuan apel adalah mengantisipasi terjadinya bencana yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. Kustini menyebutkan upaya apel siaga ini sebagai bentuk pelajaran dari berbagai bencana yang telah terjadi sebelumnya supaya tidak timbul kerugian besar lagi.

Apalagi BMKG DI Yogya menyebutkan bahwa potensi terjadinya bencana masih akan terus berlangsung sampai Januari 2023 mendatang. Kustini mengimbau agar semua pihak ikut terlibat mengantisipasi bencana.

Mulai dari TNI/POLRI, BPPTKG, Basarnas. BMKG, PMI Sleman, BPBD DI Yogya, dan Baznas Sleman. Semuanya diharapkan bekerja sesuai bidangnya agar saat terjadi bencana, masyarakat tidak merasakan dampaknya dalam waktu berkepanjangan.

Bambang Kuntoro sebagai pihak dari BPBD Sleman mengatakan bahwa curah hujan akan terus terjadi selama akhir dan awal tahun mendatang. Bahkan puncaknya, Yogyakarta waspada hidrometeorologi yakni Desember 2022 sampai Januari 2023 mendatang.

BACA JUGA:  Inilah Tata cara dan syarat pendaftaran rekrut BUMN tahun 2022.

Hidrometeorologi pernah terjadi pada 9 November lalu, seperti 66 kejadian angin kencang, 8 kali petir, 17 kali banjir, 1 kali kekeringan, 5 kali banjir, dan longsor pada 52 titik lokasi. Dari satu hari kejadian itu saja menyebabkan kerugian materi senilai 4,7 miliar rupiah.

Oleh sebab itu apel siaga dilaksanakan beberapa waktu lalu dengan dihadiri berbagai pihak terkait. Sebanyak 400 personil ikut apel, diantaranya TNI/ POLRI, relawan, OPD Kabupaten Sleman, dan masih banyak lagi lainnya.

Prakiraan Cuaca BMKG DI Yogyakarta

Cuaca ekstrem masih terus melanda, Yogyakarta waspada hidrometeorologi terus digaungkan oleh pemerintah setempat. BMKG DI Yogyakarta telah memperkirakan kemungkinan bencana hidrometeorologi akan terjadi sampai 18 November nanti.

Kilat, petir, dan angin menjadi berbagai unsur penyebab bencana, mulai dari sengatan listrik, pohon tumbang, dan juga berbagai kerugian lainnya. Anomali suhu di Laut Jawa dan Samudera Hindia merupakan faktor alami terjadinya ancaman bencana ekstrem.

Suplai air dari Samudera Hindia ke bagian Barat Indonesia terlihat tidak signifikan apabila memperhatikan Indeks Indian Ocean Dipole atau perbedaan suhu pada permukaan laut di dua wilayah. Nilai yang ditunjukkan adalah -0,11, cukup rendah.

Curah hujan di seluruh Indonesia yang membuat Yogyakarta waspada hidrometeorologi juga disebabkan oleh El Nino Southern Oscillation atau ENSO. Selain itu, anomali suhu permukaan Laut Jawa dan Samudera Hindia turut memprakarsai terjadinya bencana.

Pertemuan massa udara dan arah belokan angin di atas langit Sumatera Barat Daya, Papua, dan Kalimantan memicu peningkatan awan hujan. Kelembaban udara sejauh ini cukup tinggi, yakni mencapai angka 80 persen. Itu sebabnya curah hujan masih terus tinggi.

Sekali lagi, BMKG setempat mengimbau kepada para warga agar selalu siap siaga dan waspada menghadapi segala kemungkinan terburuk. Status Yogyakarta waspada hidrometeorologi mesti menjadi perhatian penting dan prioritas bagi seluruh pihak terlibat.

BACA JUGA:  Waspada!! Gunung Semeru Erupsi Kembali Keluarkan Awana Panas Lagi.